Rencana-Nya begitu indah (1)
Setelah sekian lama tenggelam dalam kehidupan nyata, akhirnya aku memberanikan diri untuk kembali menulis. Ya, apa yang sudah berjalan sampai sejauh ini tak pernah terbayangkan sebelumnya, rencana-Nya begitu indah. Mungkin bisa saja merasa kecewa dan menyesal mengambil suatu keputusan, tapi lihat, rasakan dan jalani saja bahwa nyatanya ini lebih indah dari yang terlihat.
Ini jalan hidupku, yang aku pilih dan jalani atas kehendak-Nya ..
Dari semenjak sekolah dasar aku menyukai dunia jurnalis tapi aku tak cukup berani dan punya cita-cita lain, pada awalnya aku sangat ingin menjadi seorang reporter, penulis novel atau pembawa berita tapi karena aku merasa kurang percaya diri dan pemalu sehingga membuat aku merubah cita citaku, ya aku punya ambisi untuk menjadi seorang dokter, dokter spesialis anak dan aku mengubur cita-citaku sebelumnya. Berawal dari saat itu, aku punya ambisi besar dan berusaha semampuku, tapi lagi lagi aku selalu merasa tidak percaya diri dan merasa aku tidak akan bisa, hingga pada akhirnya aku kembali mengubur cita-citaku menjadi dokter.
Aku kembali mengubur cita-citaku saat aku lulus SMA, ada satu jalan yang aku ikuti untuk mencapai cita-citaku, pada jalan itu aku bertemu beraneka ragam orang dengan semangat juang yang sama denganku untuk mencapai cita-cita dan itu membuatku semakin termotivasi untuk bisa berhasil. Namun nyatanya, setelah itu aku mulai berproses dan berusaha sekuat tenaga untuk masuk ke kedokteran, mengikuti semua ujian masuk yang diselenggarakan oleh beberapa instansi. Aku merasa sudah berusaha dengan semua kemampuanku,ternyata hasilnya tak ada satupun yang berhasil. Aku mulai kembali kehilangan rasa percaya diri dan mulai pasrah serta berserah diri pada Sang Pencipta. Apa ini bukan jalan untukku Ya Rabb? aku berpasrah. Saat proses ini sebenarnya ada seseorang disampingku tapi entah mengapa rasanya dia tak pernah benar benar ada dan membersamaiku, hingga akhirnya aku mengubur semua kegagalanku untuk meraih cita-citaku dan ia pun aku tinggalkan, walau berat. Tapi pada kenyataannya ketika aku meninggalkannya dia tak pernah berusaha untuk mengejarku, jadi untuk apalagi aku mengharapkan dia. Ketika aku mulai kehilangan semangat, ada sebuah jalan yang tak pernah aku duga dan rencanakan sebelumnya.
Ada secercah harapan lain untuk aku ambil, dengan pemikiran tak mau putus harapan sudah berjalan dan berjuang sejauh ini demi melanjutkan pendidikan dan dengan jalan ini aku tak akan menyulitkan kedua orangtuaku. Aku mendapat tawaran untuk melanjutkan pendidikan jalur beasiswa dengan persyaratan yang tidak mudah, sudah sejauh ini mengapa tidak diambil? akhirnya dengan berserah dan meluruskan niat, aku mengambil jalan ini dan mengubur cita-citaku menjadi dokter. Aku melanjutkan pendidikan dengan jurusan S1 Teknik sipil. Aku sangat awam dengan jalan ini namun aku berusaha menjalaninya dengan ikhlas dan sabar agar semua mendapat keberkahan, selain itu orangtuaku pun tak perlu repot memikirkan biayanya. Dalam perjalanan pendidikan sarjanaku, aku berusaha fokus dan membagi waktu untuk hal lainnya, seperti mengikuti organisasi, UKM, hingga semua kegiatan yg membuat diriku memiliki banyak pengalaman yg nantinya bisa aku ceritakan pada siapapun dan menjadi sebuah memori indah.
Aku menikmati jalan ini, hingga dipertengahan jalan aku tersadar akan kehadiran seseorang. Awalnya aku tak menghiraukannya karena aku ingin fokus pada apa yang sedang aku jalani saat ini. Tapi pada kenyataannya, tanpa aku sadari ada ruang kosong yang telah lama aku biarkan dan lambat laun ia mengisinya. Aku mulai merasa nyaman akan kehadirannya, aku biarkan dia mengisi hari-hariku dan menjadikan perjalananku lebih indah. Hingga pada suatu hari aku tersadar, aku tak ingin ia menetap dalam kehidupanku apabila dia tak benar-benar serius. Tak kusangka, ia memberanikan diri untuk datang ke rumah orangtuaku dan memperkenalkan dirinya. Dia orang pertama dan aku tersentuh. Semenjak itu aku tak lupa menyelipkan namanya dalam do'aku "Jika kelak dia jodohku, tolong jaga dia dan lancarkanlah semuanya atas izin-Mu, jika bukan maka tolong jauhkanlah dan jangan sampai hamba berharap selain kepada-Mu." Seiring berjalannya waktu, kami saling menemani hingga dia katakan bahwa dia benar-benar serius denganku dan ingin terus bersama denganku. Awalnya aku ragu dan coba berserah kepada yang Maha Kuasa dengan memohon agar diberi petunjuk apapun yg terbaik menurut-Nya.
Dengan adanya dia dalam perjalanan pendidikanku ini tak pernah membuatku hilang fokus. Namun aku berusaha tetap mengontrol perasaan dengan memohon kepada-Nya diberikan yg terbaik. Hingga sampailah pada titik akhir pendidikanku, aku berhasil mendapat gelar cumlaude. Pencapaian yang sangat luarbiasa, membuat kedua orangtuaku bangga begitupun dengan diriku sendiri. Lihatlah, sudah sampai sejauh ini kamu telah berhasil melewatinya, hal ini tak pernah kamu rencanakan sebelumnya dan ternyata indah bukan? Terlebih dibalik semua pencapaianku hingga titik ini banyak sekali orang yang awal kehadirannya meragukan tapi nyatanya tak ada satupun yang pergi menginggalkan. Benar nyata adanya, apabila saat itu rencanaku berjalan mulus, apakah aku akan berhasil dan akan seindah ini?
Lalu perjalanan seperti apa setelah ini?
BERSAMBUNG ----
"Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yg terbaik untuk seorang hamba-Nya"
(Based on my life) Mudah-mudahan ada hikmah yang dapat diambil dalam tulisan diatas, aamiin.
Komentar
Posting Komentar