Rencana-Nya begitu Indah (2)
Setelah aku lulus sarjana aku mulai mempersiapkan diri untuk melamar pekerjaan ke perusahaan yang sesuai dengan bidang teknik sipil. Karena memang dari awal perkuliahan aku sangat awam dengan jurusan ini, saat lulus pun aku masih bingung dengan apa tujuanku selanjutnya dan tidak merasa percaya diri dengan ilmu yang aku punya. Dengan semua kemampuan yang aku miliki, aku mencoba melamar kerja ke berbagai perusahaan. Hingga pada 1 bulan kemudian teman kuliahku mengajak aku untuk ikut bekerja di perusahaan tempat dia bekerja. Aku menerima tawaran tersebut dan mencoba melamar pekerjaan. Aku tidak banyak berharap, karena aku masih lulusan baru dan belum memiliki pengalaman dalam dunia pekerjaan. Aku mengikuti interview dan rangkaian tes. Alhamdulillah di hari itu juga aku dinyatakan diterima di perusahaan tersebut.
Aku menjalani peranku sebagai seorang karyawan dan aku mendapatkan banyak sekali ilmu baru yang tidak ada di bangku perkuliahan. Hingga di bulan ke-3 aku ditawarkan untuk memperpanjang kontrak atau tidak, dengan berbagai pertimbangan aku memilih untuk mundur dan mencoba mencari pekerjaan baru. Namun nyatanya mencari pekerjaan tidak semudah itu, sambil menunggu ada panggilan kerja aku pun ikut bersama ibuku mengajar di TK tempat ibuku mengajar. Walaupun aku tidak memiliki keahlian dalam mengajar tapi karena pada dasarnya aku menyukai anak kecil, aku menikmatinya.
Sudah banyak aku mengirim lamaran ke berbagai perusahaan tapi belum juga ada panggilan, sudah sampai pada tahap interview atau tes psikotes namun hasilnya tidak bagus. Tiga bulan lamanya aku mengajar di TK hingga ada panggilan untuk melakukan interview di perusahaan kontraktor di Cikarang. Sempat ragu dan meminta petunjuk dari Allah SWT karena akan jauh dari keluarga tapi, kesempatan tidak akan datang dua kali, akhirnya aku berangkat naik bis dan sampai di tujuan menggunakan ojek online. Sampai di lokasi, kepalaku penuh dengan pertanyaan dan penuh keragu-raguan, apa aku siap? apa aku pantas ada disini? apa aku bisa menjalaninya? dengan semangat dan percaya diri aku memberanikan diri untuk masuk ke perusahaan tersebut.
Saat interview dan tes memakan waktu cukup lama, dalam prosesnya pun aku merasa ragu dan takut dalam menjawab. Pada akhirnya ternyata aku dinyatakan lolos seleksi namun aku harus menetap di Cikarang dan perusahaan meminta keputusan saat itu juga. Aku akhirnya meminta izin kepada kedua orangtuaku dan meminta saran kepada dia. Ini akan menjadi pertama kalinya aku merantau dan jauh dari orangtua, dengan izin orangtua serta berbagai pertimbangan dari saran dia akhirnya aku menerima tawaran tersebut. Ini perjalanan hidupku yang baru, yang belum pernah aku bayangkan dan rencanakan sebelumnya bahkan aku tak tahu apa yang akan aku hadapi kedepannya, atas izin Allah SWT dan restu kedua orangtuaku, aku melangkah maju dengan menyerahkan semua pada-Nya serta yakin bahwa ini adalah rencana Allah SWT yang terbaik untuk aku.
Aku tinggal di mess bersama karyawan lainnya, awalnya aku sulit beradaptasi dengan karyawan lain, namun seiring berjalannya waktu aku pun bisa menyesuaikan diri dan mengenal semua karyawan bahkan bisa dibilang cukup dekat dengan beberapa karyawan. Dengan pekerjaan yang aku emban pun awalnya sulit untuk aku kerjakan, tapi karena karyawan di kantor sangat terbuka dan saling membantu aku menjadi terbiasa dan mulai menguasai pekerjaanku. Banyak sekali pengalaman baru yang aku dapat di perusahaan ini, aku bersyukur dengan rencana Allah SWT, rencana yang tak pernah ada dalam bayanganku. Aku juga cukup senang karena jarak dengan dia tak begitu jauh, dia di Bekasi dan aku di Cikarang sehingga terkadang dia menyempatkan diri untuk menghampiriku dan melakukan hal yang kita sukai bersama. Hingga di bulan ke-enam aku mulai memikirkan hal lain, ya apa tujuanku kedepannya? sebetulnya setelah lulus kuliah aku sempat memikirkan satu harapan atau keinginan kecil untuk menikah muda dan menjadi istri shalihah, aku pun telah membicarakannya dengan dia yang dari awal mengenalku berniat untuk serius. Dari semenjak lulus kuliah pun kami sudah mulai merencanakan dan berusaha untuk menyisihkan uang untuk menabung biaya pernikahan. Dengan berserah diri kepada Allah SWT, aku menentukan jalanku dengan berbagai pertimbangan. Berdasarkan saran dari dia aku memutuskan untuk bekerja di Cikarang hanya 1 tahun dan akan menikah dengannya serta ikut tinggal dengan dia di Bekasi. Dengan tujuan baru yang aku punya, aku pun lebih giat dan semangat bekerja.
Awal tahun 2020, aku dan dia memutuskan untuk merencanakan pernikahan secara serius, saling mengenal di tahun 2015 hingga tahun 2020 dengan berbagai macam masalah yang muncul, akhirnya pada tanggal 2 februari 2020 dia datang membawa keluarganya ke keluargaku untuk melamarku, menjadikan aku sebagai calon istrinya. Sebelum hari-H aku merasa biasa saja bahkan sangat senang namun pada saat dia mengatakan niat baiknya, aku tak kuasa menahan haru dan menangis mengingat perjalanan kami berdua yang tak mudah. Atas restu kedua orangtuaku serta tak lupa meminta petunjuk dan kemudahan dalam setiap prosesnya kepada Allah SWT, aku menerima lamaran dia. Setelah hari itu kami mulai merencanakan tanggal pernikahan dan menyiapkan segalanya. Kami sudah memiliki rencana yang cukup matang untuk hari pernikahan, tanggal pernikahan dan segalanya sudah kami persiapkan. Serta niatku sudah bulat untuk resign dari pekerjaan setelah menikah.
Hingga masuklah virus covid ke Indonesia dan menjadi pandemi, keadaan ini benar-benar merubah segalanya. Di akhir bulan maret kantor memutuskan untuk menerapkan WFH (Work From Home) bagi karyawannya, tidak semua namun aku menjadi salah satu karyawan yang ditugaskan untuk WFH. Walau masih beberapa bulan lagi menuju tanggal pernikahan namun aku mulai merasa cemas dan khawatir, apa pernikahanku akan berjalan sesuai rencana? terkadang pertanyaan ini hadir dalam pikiranku. Aku pasrah dan berserah diri kepada Allah SWT, apapun yang terjadi kedepannya, itu merupakan ketentuan-Nya dan aku harus ikhlas dan siap menghadapinya. Dua bulan menjalani WFH ketentuan yang diberikan perusahaan kepada karyawan cukup berat dan membuat aku bimbang, aku berfikir untuk resign secepatnya melihat kondisi yang tidak baik di perusahaan, terlebih memang sudah semakin dekat ke tanggal pernikahan dan aku ingin fokus mempersiapkannya. Setelah diskusi dengan dia dan meminta petunjuk dari Allah SWT, akhirnya aku memutuskan untuk resign beberapa minggu sebelum hari pernikahan. Aku pun diminta datang ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan dan berpamitan pada atasan serta karyawan lain yang ada dikantor. Keputusan yang cukup sulit, namun aku ingin yang terbaik untuk kedepannya.
Setelah resign kehidupanku berubah, aku sibuk mempersiapkan pernikahan dan selalu aktif untuk melihat perkembangan pandemi covid serta kebijakan terkait dengan pelaksanaan pernikahan. Aku selalu diselimuti rasa khawatir ketika kasus covid masih saja meningkat dan peraturan pemerintah semakin ketat. 3 minggu sebelum hari pernikahan aku dan dia memutuskan untuk coba merubah rencana, terutama merubah lokasi pernikahan yang awalnya kami rencanakan di gedung serba guna kampus tempat kami bertemu. Bagaimana aku menghadapi situasi ini? pada awalnya aku sangat galau dan bersedih, bukankah setiap wanita memiliki pernikahan impian? tapi pilihannya hanya dua, tetap di tanggal yang sudah ditentukan dan merubah lokasi atau merubah tanggal sampai situasi dan kondisi memungkinkan untuk di lokasi rencana awal? keputusan yang tidak mudah untuk kami, terlebih untuk aku. Semua bayangan tentang hari pernikahan yang diinginkan harus menjadi impian belaka.
Aku merenung dan mencoba melihat dari berbagai sudut pandang, meminta petunjuk dari Allah SWT untuk menentukan jalan mana yang diambil, meminta saran dari keluarga dan sahabat. Hingga tanpa sengaja aku melihat suatu kutipan di media sosial terkait pernikahan yang membuatku termenung "melangsungkan pernikahan merupakan suatu niat yang sangat baik dan niat baik sebaiknya disegerakan maka untuk apa menundanya?" Menikah sederhana lebih baik daripada setelah menikah memiliki banyak hutang, prinsip ini juga yang dipegang oleh kami berdua, agar pernikahan kami tidak menjadi beban bagi keluarga atau kerabat terdekat. Dari semua saran yang aku dapat, quotes yang aku baca, ceramah yang aku dengar, dan petunjuk dari Allah SWT aku memutuskan untuk tetap melangsungkan pernikahan di tanggal yang sudah kami rencanakan. Mengikhlaskan apa yang ada di hadapan kita merupakan hal yang tak mudah, aku perlahan mencoba ikhlas dengan selalu merasa yakin bahwa ini adalah rencana Allah SWT dan Allah SWT sangat mengetahui apa yang terbaik untuk seorang hamba-Nya.
Bagaimana akhirnya rencana pernikahanku yang harus berubah total di H-2 minggu?
Bersambung ----
(Based on my life)
Mudah-mudahan apa yang saya tulis bisa bermanfaat bagi yang membacanya.

Komentar
Posting Komentar